Buku Sekolah Elektronik

Munculnya BSE mengundang banyak komentar, terutama tentang ekonomis dan efisiensi pemakaian. berikut beberapa ulasan yang ada di media indonesia

SOLO–MI: Meski menyambut baik program Buku Sekolah Elektronik (BSE), namun sejumlah sekolah di Solo menyatakan masih pikir-pikir untuk memanfaatkannya. Mereka menilai penggunaan buku teks masih jauh lebih murah.

“Sebetulnya, dari sarana dan prasarana sudah siap. Kami sudah memiliki laboratorium yang terkoneksi internet. Cuma masalahnya, dibanding buku teks biaya mengunduh BSE dengan warna dan gambar yang sama persis jatuhnya lebih mahal”, ujar Kepala Sekolah SMAN 5 Solo, Unggul Sudarmono kepada wartawan, Jumat (25/7).

Dengan pertimbangan itu, untuk sementara ini kalangan pendidik masih memilih untuk menggunakan buku teks dan modul yang sudah ada. Namun demikian, ke depan mereka secara berangsur akan mulai memanfaatkan program terobosan dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) itu.

Kalau pun belum bisa mengunduhnya secara utuh dan diperbanyak, para siswa akan diberikan kesempatan untuk membacanya di laboratorium komputer. Sekarang persiapan ke arah itu tengah dilakukan. Termasuk mempersiapkan para guru agar bisa mengakses BSE yang telah ditentukan itu.

“Tetapi sebelum dilaksanakan, kami akan membahasnya terlebih dahulu dengan komite sekolah. Kalau ada dananya dan komite setuju, bisa saja dilakukan. Meski tidak bisa sepenuhnya,” kata Unggul.

Paling banter setiap mata pelajaran hanya disediakan 20 buku saja. Dengan asumsi di setiap kelas terdapat 40 siswa, sehingga setiap satu buku bisa digunakan secara bersamaan oleh dua siswa. Setelah pelajaran usai, buku dikembalikan lagi ke perpustakaan.

Lain di Solo, lain pula di Sukoharjo. Sejumlah sekolah di kabupaten itu malah menilai penggunaan BSE jauh lebih hemat dibanding buku teks. “Karena nantinya siswa tidak perlu lagi membeli buku paket. Karena materinya sudah disediakan dalam bentuk digital, tinggal diakses saja”, kata Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Sukoharjo, Ngatimin.

Selain itu, menurut dia, model pembelajaran baru ini juga sekaligus membantu para siswa untuk mempelajari lebih jauh mengenai internet. Karena meski selama ini telah diberikan materi, namun sifatnya masih sebatas pengetahuan dasar. Pengembangannya tergantung pada upaya masing-masing siswa.

Dengan alasan itu, Ngatimin menyambut baik terobosan yang dilakukan Depdiknas ini. Karena sekaligus bisa dijadikan sebagai pendorong para siswa untuk lebih aktif. Selain mencari buku-buku pelajaran yang direferensikan, mereka juga bisa mencari informasi tambahan yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.

“Soal sarana dan prasarana pendukung, tidak ada masalah. Kami sudah memiliki sejumlah perangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Jadi, pada prinsipnya kami sudah sangat siap”, tambahnya.

Meski demikian, Ngatimin berharap BSE yang disediakan Pemerintah mengacu pada kurikulum yang sudah ada. Karena selama ini sudah menjadi acuan para guru dan siswa. (FR/OL-2)

One Response to “Buku Sekolah Elektronik”

  1. nikkiputrayana Says:

    Sebenarnya masalah buku murah adalah masalah kemauan saja. Seperti kata rizal malaranggeng, if theres a will theres a way. Masalah biaya mengunduh yang mahal bisa disiasati lewat hotspot2 gratis yang sudah menjamur. Kecepatan mendownload bisa disiasati lewat program download manager.
    Semuanya hanya kemauan. Jangan sampai kita sudah kecanduan simbiosis penerbit dan sekolah yang merugikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: